Oleh: NALISA | Juli 3, 2012

Pantaskan kita meminta

Zaman kian lama kian berubah, gaya hidup, cara pandang, tingkah laku, ajaran, ilmu tak satupun yang berhenti untuk mengatakan tidak berubah.  Begitu juga dengan manusia yang semula baik, menjadi buruk, dari yang buruk bertambah jadi buruk, dari yang tidak terpuruk minta terpuruk. Faktanya manusia adalah makhluk yang sempurna akan tertapi manusia tidak satupun yang sempurna kecuali Kekasih Allah yaitu Baginda Rasulullah.  Tak seorangpun yang menyamai beliau, keteladannya, kecerdasannya, kebaikannya, kemurahhatiannya semuanya ada pada Rasulullah.
Allah sudah memberikan manusia, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap, otak untuk berfikir, tangan untuk memengang atau melakukan, kaki untuk berjalan, hati untuk merasakan, nafsu untuk dinikmati.  Namun manusia kerap kali tidak mensyukurinya, apa yang telah Allah berikan, mungkin termasuk aku yang merupakan manusia ciptaan Allah  Allah telah memberikan kita melebihi makhluk yang lain agar kita berusaha, tidak untuk meminta sesama kita (manusia).  Akan tetapi kenyataannya manusia yang sehat badannya, pikirannya dan bisa dikatakan tidak kurang sedikitpun yang dimiliki oleh tubuhnya.  Aku dan juga kamu sering melihat orang yang terlihat fisiknya sehat wal afiat meminta-minta belas kasihan dari orang-orang,  Pertanyaan saya, pantaskah kita memberi atau menyantuni kepada orang yang suka minta-minta itu?  Pahahal yang kita ketahui dia berpenampilan seperti layaknya orang ada (sederhana), mempunyai fisik yang bagus tetapi sebuah rasa yang mungkin mereka sudah tidak memiliki lagi, apakah itu?  Rasa malu yang mungkin sebagian dari pada iman sudah menghilang dari lubuk hati mereka.  Perasaan meminta yang sudah mereka kembangkan untuk mendapatkan belas kasihan dari seseorang.
Seperti yang saya kutip dari sebuah blog tentang hadish malu:
  • Rasulullah menjadikan sifat malu bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah bersabda, ”iman memiliki 60 atau 70 cabang. Paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dijalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam kitab Iman, hadits nomor 51)
  • Rasa malu adalah cabang dari iman sebagaimana Rasulullah menyatakan, “Iman terdiri dari 60 cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari iman.” (HR. Bukhori)
  • Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas r.a bahwa Rasulullah telah bersabda, “Tidaklah ada suatu kekejian pada suatu perbuatan kecuali akan menjadikannya tercela dan tidaklah ada suatu rasa malu pada suatu perbuatan kecuali akan menghiasinya.” (Musnad Ahmad)
  • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah bersabda pada Al Asyad al ‘Asyri: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah yaitu kesabaran dan rasa malu.” (Musnad Ahmad)
  • Diriwayatkan dari Abdillah ibni Mas’ud  ia berkata, Rasulullah telah bersabda pada suatu hari : “Milikilah rasa malu pada Allah dengan sebenar-benarnya! Kami para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: “Bukan sekedar itu akan tetapi barang siapa yang malu dari Allah dengan sesungguhnya hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada didalamnya, hendaknya ia menjaga apa yang ada diperutnya dan yang ada didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barang siapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah malu kepada Allah dengan sesungguhnya.” (Musnad Ahmad)
  • Tentang kesejajaran malu dan iman dipertegas lagi oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Malu dan iman keduanya sejajar bersama, ketika salah satu dari keduanya diangkat maka yang lainnya pun ikut terangkat.” (Hadits Riwayat Hakim dan Ibnu Umar).
Mungkin dulu saya cuman melihat di layar kaca melalui Televisi saja, akan tetapi sekarang di depan mata saya sudah terlihat banyaknya orang yang meminta-minta, baik di jalan maupun yang mendatangi rumah dengan berbagai alasan dan ekspresi masing masing.  Sekian ulasan dari saya sebagai renungan bagi kita semua.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: